Showing posts with label Lagi waras. Show all posts
Showing posts with label Lagi waras. Show all posts

Wednesday, June 12, 2013

Dear(y) - Tuan Dua Belas




Sebuah kata yang terlintas di pikiranku ketika melihat map di atas adalah jarak. Sebuah panjang dan lebar yang begitu luas. Serta waktu tempuh yang begitu memakan waktu. Aku sekarang berada di kota Malang. Dan aku ingin bercerita tentang seseorang yang berada di kota Bandung. Namanya adalah DEARY WAHYU NUGROHO.

Sunday, January 20, 2013

ILLUSION OF CHOICE


Hari ini saya tidak tahu ada apa dengan otak saya. Sebagai Duta Gagal Move On Garis Keras saya mau memberikan sumbangsih untuk mengobati kegalauan-kegalauan para kawula muda dan kawula tua sekalian. Postingan kali ini saya ambil dari tweets-nya Kei Savourie. Saya sebenarnya bukan follower koko yang satu ini. Tetapi dia adalah orang nomor 2 setelah mantan, yang saya stalking timeline-nya. Jadi kenapa saya sampai bikin postingan khusus kali ini? Karena eh karena tweets Koko Kei kali ini bener-bener gue banget. Dan mungkin "gue banget" juga untuk kalian yang saat ini kepo blog saya. Well, tak usah banyak galau lagi, cekidot!!
















Namun, selain bersusah payah mengumpulkan tweets yang benar-benar menyindir kaum lelaki (khususnya yang sok kecakepan dan kepedean hingga memberi embel-embel pada dirinya sebagai playboy) itu, saya juga mendapati sebuah artikel. Artikel yang sungguh menelanjangi saya sebagai perempuan yang masih mencari cinta sejati. Artikel yang menguak jati diri saya sebagai gadis penggemar bad boy.

Tapi  ya sudahlah daripada bikin penasaran terus galau. Terus display name BBM-nya diganti titik doang. Terus display picture  BBM-nya diganti sayat-sayat urat nadi sampai berdarah. Saya akan bagikan artikel tersebut dengan cara klik disini.


Guys, listen to this: wanita memiliki logika bahwa jika pria terlihat keras dan kasar diluar, pasti di dalamnya sama sekali berkebalikan dengan itu! Wanita menyusun sebuah logika berdasarkan sifat empati, naluri nurturan dan fantasi mereka bahwa pria-pria brengsek itu sebenarnya, jauh di dalam diri mereka, tidak brengsek sama sekali. Sifat-sifat tersebut membuat wanita, dengan ‘mata ketiganya’, MERASA para bajingan yang dominan dan banyak aksi itu sebagai pria yang selalu-disalah-mengerti oleh masyarakat.

Bahwa jika saja ada Seorang Wanita Agung Yang Tulus Menyayangi, pria-pria itu pasti akan berubah dan menyadari keindahahan Cinta dan Kasih Sayang yang diberikan tanpa syarat kepada mereka. Bahwa pria itu akhirnya akan tenggelam dalam adorasi dan mistikus cinta abadi kepada Sang Wanita Spesial Yang Selalu Setia Berkorban Dan Memahaminya ketika dulu mereka masih berandalan, norak, dianggap kurang ajar dan salah dimengerti oleh semua orang.

Apakah itu termasuk hal yang membuat mereka turn-on? Yup, exactly. Wanita-wanita tertarik dengan aspek kejantanan, dominan, kepemimpinan seorang pria karena itu menggambarkan landasan hubungan yang sehat dan secure. Tapi ingat juga bahwa mereka adalah makhluk yang menyukai permainan arti dan simbol. Jadi para wanita selalu membayangkan dibalik semua kesempurnaan dan kegilaan pria itu, ada tersembunyi ruang-ruang kosong dan dingin yang menunggu untuk diisi oleh satu Wanita Yang Sangat Spesial.

Pria brengsek, bajingan, playboy, bandot, dan berbagai kelas penjahat kelamin memiliki sinar alamiah yang menarik perhatian wanita-wanita. Sinar yang mengkomunikasikan mereka adalah pemimpin dan petualang yang begitu tangguh dan tidak kekurangan apa-apa, sehingga jika mereka memilih seorang wanita, itu pasti karena sang wanita mengetahui apa yang tidak diketahui wanita lain untuk bisa memahami dunia pria tersebut. Dengan demikian ia menjadi Wanita Yang Sangat Spesial.


With galau dan move on,
Devanosa

Tuesday, January 15, 2013

Kisah Cinta di Jogjakarta


Alhamdulillah. Akhirnya saya berhasil mewujudkan salah satu mimpi saya yaitu berkunjung ke satu-satunya kota istimewa didunia. Bahkan lebih istimewa daripada cherrybelle. Kota itu adalah Jogjakarta. Kurang lebih satu minggu saya menghabiskan detik-detik hidup saya di kota tersebut.

Berbicara tentang Jogja entah kenapa saya punya passion yang berbeda ketika mengunjungi kota tersebut. Mungkin untuk sebagian orang yang bertandang kesana, Malioboro atau Pantai Parangtritis adalah objek wisata yang paling di buru. Namun untuk saya, satu-satunya tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah House of Raminten (HOR).

Masih ingat postingan saya tentang sebuah game bernama ShowTime Indonesia (STI)? Kalau lupa bisa baca disini. Well, I met one of my favorite friends in STI. She was Aira a.k.a SmoochyPanda. Aira berbaik hati (bisa jadi juga khilaf) mau menjemput juga menampung saya menginap dirumahnya yang luar biasa besar dan mewah. Padahal kita baru pertama ketemu. Aira begitu saja percaya sama saya. Aira tidak tahu saja kalau saya klepto. Mungkin setelah saya pulang kemarin, dia baru sadar kalau keluarganya telah kehilangan beberapa kilogram beras karena saya makan.
Bukan. Ini bukan Duo Maia.


Jadi saya sangat-sangat berterima kasih kepada Aira ini. Aira merupakan bagian dari elemen yang membuat mimpi saya menjadi kenyataan. Tau nggak apa? Dia mengajak saya hangout ke HOR. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan kondisi HOR. In my honest opinion, HOR merupakan tempat yang sangat unik, etnik dan romantic. Suatu hari saya harus kembali lagi kesana bersama laki-laki yang saya cinta. :')
No Pict = Hoax. Nih fotonya nih. Huh!!!
Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya tekankan dalam postingan kali ini. Saya ingin mengangkat sebuah kisah cinta. Sebuah kisah cinta yang saya tonton di Jogjakarta.

Hari itu Aira dan Nona (Adik perempuan Aira) mengajak saya menonton sebuah film Indonesia. Sejujurnya saya tidak terlalu suka dengan film-film garapan tanah air. Bukan meremehkan cuma terkadang membosankan. Film yang kami tonton adalah Habibie Ainun. Film yang diilhami dari sebuah buku itu pun di angkat ke layar lebar. Sebelumnya saya memang sempat agak penasaran dengan film tersebut. Soalnya saya pernah dikirimi sebuah chat BBM oleh Mama Indra Sari yang berisi puisi Pak Habibie untuk Bu Ainun. Dan saya tak dapat membendung air mata begitu selesai membacanya.


Aktor yang menjadi pemeran mantan presiden ketiga Indonesia adalah Reza Rahadian. Sumpah, akting Reza di film itu berkelas banget. Mirip banget sama Pak habibie. Piala Citra berhak jatuh ke Reza menurut saya. Sementara aktris yang menjadi Bu Ainun adalah Bunga Citra Lestari. Menurut pendapat saya, akting mbak BCL ini kurang memukau, tak ada greget serta kurang istimewa. Ide cerita lah yang membuat film yang diangkat dari kisah nyata ini menjadi sangat menakjubkan juga mengharukan.
  
Well, saya itu adalah orang yang paling gengsi mengeluarkan air mata apalagi kalau hanya menonton film. Namun, ketika menonton film ini saya benar-benar tak bisa membendung air mata. Segala emosi tumpah ruah dalam bening-bening kristal dipipi saya. Saya benar-benar berlinang.

Kisah Pak Habibie dan Bu Ainun membuat saya begitu iri. Kisah yang membuat saya terobsesi. Kisah yang meneteskan air mata tanpa henti setiap mengingatnya. Kisah cinta yang suci. Kisah cinta yang dipisahkan oleh mati.


Saya masih terinspirasi dengan kisah sejati dua orang insan ini. Hingga saya iseng-iseng blogwalking dan menemukan sebuah postingan yang kembali meneteskan air mata saya. Check this out.


Pada suatu hari, baru sekitar pukul 12.00 diperbolehkan masuk ke ICCU kamar Ainun. Saya dua jam terlambat, walaupun sejak pukul 09.30 sudah menunggu di kamar tunggu ICCU. Hal itu terjadi karena keadaan darurat akibat pelaksanaan operasi yang tidak direncanakan sebelumnya, maka semua pengunjung belum diperbolehkan masuk ke ICCU. Baru sekitar pukul 12.00 saya masuk. Ketika masuk, Ainun sedang menangis. 

Saya langsung bertanya: “Ainun mengapa nangis? Sakit?”

Ainun menggelengkan kepala. Lalu mata saya mengarah ke alat-alat elektronik dan segala peralatan yang dipasang di tubuh Ainun dengan sekitar 50 alat transfusi dan infusi sambil mengucapkan:

“Takut sama peralatan ini?” Ainun menggelengkan kepalanya lagi. “Saya mengerti sekarang. Kamu mengira telah terjadi sesuatu pada saya?”

Baru Ainun mengangguk kepalanya. Walaupun pada waktu itu Ainun dalam keadaannya sadar. Ainun hanya bisa mengangguk dan menggelengkan kepala karena di mulutnya dipasang alat pernafasan. Saya amat terharu karena dalam kaadaan saat dan dirawat secara intensif tersebut, Ainun masih saja memikirkan kesehatan saya.

  
Ya Allah... Ya Ampun, sedih banget yah. Tapi ada satu hal lagi yang tak kalah mengharukan. Sebuah puisi. Puisi yang dikirimkan oleh Mama Indra Sari untuk saya. Puisi Pak Habibie untuk almarhumah Bu Ainun.

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….


SUBHANALLAH. Nggak berhenti-berhenti nih air mata setiap bacanya. Hiks. T____T

Teruntuk Pak Habibie dan Bu Ainun Almarhumah,
Setelah orang tua saya, kalian kini menjadi satu lagi alasan yang membuat saya percaya bahwa cinta sejati itu masih ada dan saya harus berjuang untuk menggapai serta mempertahankannya. :')) 


with tears,
-Devanosa-

Monday, December 31, 2012

Last But Not Least


Assalamu'alaikum.

Ini akan jadi postingan pertama di bulan Desember dan juga akan menjadi postingan terakhir di tahun 2012. Banyak hal sebenarnya yang ingin saya tuangkan namun beberapa alasan memaksa saya untuk mengumpulkannya terlebih dahulu. Bila telah tiba waktunya akan saya posting.

Jujur, bulan Desember (dan sepertinya akan berlanjut sampai tahun depan) ini saya sangat sibuk sekali. Bahkan untuk menjelaskan kenapa Days Without Okran (DWO) belum di update lagi, saya hampir tidak punya waktu. Jadi DWO hanya akan vakum untuk sementara waktu. Ada masalah internal dalam kepengurusan blog saya yang menyebabkan DWO masih belum bisa dirilis, hehehe... Honestly, blog ini tidak saya kelola sendiri. Namun, politik internal yang terjadi membuat saya berpikir untuk independen. Saya memutuskan untuk mengelola blog ini sendiri. Mungkin sudah saatnya saya bisa bebas berekspresi tanpa mesti dibatasi.

Kesalahan saya adalah lupa tujuan awal saya membuat blog ini. Saya terlena akan finansial yang menjadikan saya tidak idealis lagi. Menjadikan saya blogger yang di balut dengan bumbu dua setengah persen kebohongan. Keterbatasan yang disepakati membuat saya tidak se-emosional seperti di tumblr saya. Walaupun saya menulis unek-unek saya tapi tak ada kepuasan serta kelegaan hati.

Tahun 2012 memang belum menjadi tahun yang terbaik buat pendidikan, karir dan percintaan saya. Namun, saya akan terus bersyukur karena Tuhan saya, Allah SWT, masih memberikan kesempatan untuk saya bernafas. Memperbaiki diri atas semua khilaf dan salah yang pernah saya perbuat. Mengambil hikmah dari setiap rasa sakit. Mengajarkan diri lebih sabar atas kekecewaan. Mendidik saya untuk ikhlas atas ketidaksesuaian harapan dan hasil.

Banyaknya resolusi hidup membuat saya harus menjadi pribadi yang lebih kuat serta bijak. Ada mantra yang selalu saya tanamkan dalam benak saya ketika merasa putus asa, saya selalu yakin bahwa AFTER A HURRICANE COMES A RAINBOW. Mungkin itu saja yang bisa saya tuliskan di penghujung tahun yang penuh berkah ini. Selamat menyongsong tahun 2013. Be good, better and best!!!


With tear, smile and love
Devanosa.

  




Friday, November 30, 2012

SERANGKAIAN DOA DARI YANG TERSAYANG


This is my November. Terutama tanggal 04 November setiap tahunnya. Yeah, it’s my birthday. Ada banyak ucapan, harapan dan doa yang dipanjatkan oleh orang-orang disekeliling saya. Dan semua itu adalah kado yang ternilai harganya. Kado yang membuat saya tak mampu berucap apa-apa karena diliputi rasa bahagia. Terima kasih Allah SWT. Terima kasih keluarga.Terima kasih sahabat. Terima kasih buat kalian semua yang meluangkan waktunya untuk sekedar memberikan perhatiannya untuk saya. I hope I could be a better person than you wish.

Here they are. Cekidot!!!


Tuesday, September 11, 2012

Kalian adalah THE MOST I LOVE selamanya


Cinta yang paling tulus di dunia ini adalah cinta orang tua kepada anaknya. Mungkin, hmm… bukan “mungkin” mungkin, tapi pasti. Pasti itulah yang dirasakan orang tua kita. Jangan kalian berpikir ketika orang tua tidak mampu mengabulkan keinginan sang anak mereka hanya akan acuh begitu saja. Tidak! Mereka menangis. Mereka menangis didalam hati. Ayah akan bekerja keras mencari segala cara agar hasrat anaknya terwujud. Ibu akan lebih sering bangun di sepertiga malam untuk berdoa dan memohon pada Tuhan. Mereka hanya ingin kita bahagia. Mereka hanya ingin kita tersenyum. Mereka tidak mau melihat kita iri pada orang lain. Bahkan mereka pasti sanggup mengorbankan nyawa agar apa yang anaknya mau bisa terwujud. Pernahkah kalian memperhatikan kedua orang tua dari apa yang tidak tampak pada diri mereka? Hal – hal kecil yang bisa kalian liat setiap hari tapi tak kalian cermati.